Bulan Desember sering digambarkan sebagai waktu yang penuh perayaan. Lampu-lampu menyala lebih terang, kalender dipenuhi tanggal-tanggal istimewa, dan suasana seolah mengharuskan semua orang ikut larut dalam euforia. Di tengah narasi ini, tidak merayakan apa pun bisa terasa janggal bahkan salah.
Namun, benarkah demikian? Apakah memilih untuk tidak merayakan apa pun di bulan Desember adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan?
Baca Juga: Kopi, Hujan, dan Produktivitas: Kombinasi Tak Terduga

Narasi Kolektif tentang Perayaan
Budaya populer, media, dan lingkungan sosial sering membentuk ekspektasi bahwa Desember adalah bulan kebahagiaan bersama. Perayaan dalam berbagai bentuk ditampilkan sebagai simbol kehangatan, kedekatan, dan keberhasilan menutup tahun.
Narasi ini begitu kuat hingga tanpa sadar menciptakan standar emosional. Jika seseorang tidak ikut merayakan, ia bisa merasa tertinggal, tidak bersyukur, atau dianggap kurang menikmati hidup. Padahal, perayaan bukan bahasa kebahagiaan yang universal.
Tidak Semua Orang Berada di Fase yang Sama
Setiap orang menjalani hidup dengan ritme dan kondisi yang berbeda. Ada yang menutup tahun dengan pencapaian, ada pula yang menutupnya dengan kelelahan. Ada yang dikelilingi keluarga, ada juga yang sedang sendiri atau berduka.
Dalam kondisi seperti ini, tidak merayakan apa pun bukan bentuk penolakan terhadap kebahagiaan, melainkan respons jujur terhadap situasi pribadi. Memaksakan perayaan ketika hati tidak siap justru bisa menambah beban emosional.
Perayaan dan Energi Emosional
Merayakan sesuatu membutuhkan energi bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Ia menuntut kehadiran, keterlibatan, dan kesiapan untuk merasakan. Ketika energi ini tidak tersedia, wajar jika seseorang memilih untuk tidak merayakan.
Bagi sebagian orang, Desember justru menjadi bulan refleksi dan pemulihan. Diam, tenang, dan tidak melakukan apa pun bisa menjadi cara terbaik untuk menjaga diri. Pilihan ini tidak lebih rendah nilainya dibandingkan perayaan yang meriah.
Tekanan Sosial yang Halus
Sering kali, tekanan untuk merayakan datang secara halus. Pertanyaan sederhana seperti “Kok enggak merayakan apa-apa?” atau “Enggak ikut kumpul?” bisa terdengar ringan, tetapi menyimpan asumsi bahwa merayakan adalah keharusan.
Tekanan ini diperkuat oleh media sosial, di mana perayaan tampil dalam bentuk yang paling menarik. Foto kebersamaan, hadiah, dan momen bahagia jarang menunjukkan sisi lain: kelelahan, konflik, atau kesepian yang juga ada.
Menyadari bahwa apa yang terlihat tidak selalu mencerminkan keseluruhan cerita bisa membantu mengurangi rasa bersalah.
Netralitas sebagai Pilihan
Tidak merayakan apa pun bukan berarti anti-perayaan. Bisa jadi, seseorang hanya memilih bersikap netral. Tidak menolak, tetapi juga tidak memaksakan. Sikap ini memberi ruang untuk merasakan Desember apa adanya, tanpa tuntutan tertentu.
Netralitas sering disalahpahami sebagai ketidakpedulian. Padahal, ia bisa menjadi bentuk kesadaran diri mengetahui batas, kebutuhan, dan kapasitas emosional sendiri.
Menghormati Cara Merayakan yang Berbeda
Perayaan memiliki banyak bentuk, dan diam pun bisa menjadi salah satunya. Menikmati secangkir teh hangat, membaca buku, atau berjalan sore tanpa agenda khusus adalah bentuk perayaan kecil yang jarang diakui.
Masalah muncul ketika kita hanya mengakui perayaan yang terlihat dan terdengar. Menghormati perbedaan berarti menerima bahwa tidak semua kebahagiaan perlu diumumkan atau dirayakan secara kolektif.
Antara Kesepian dan Kesendirian
Tidak merayakan sering dikaitkan dengan kesepian, padahal kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang berbeda. Kesendirian bisa dipilih dan menenangkan, sementara kesepian adalah kondisi emosional yang tidak selalu bergantung pada ada atau tidaknya perayaan.
Bagi sebagian orang, memilih untuk tidak merayakan justru membantu menghindari kesepian yang lebih dalam kesepian yang muncul ketika berada di tengah keramaian tanpa koneksi emosional.
Menutup Tahun dengan Jujur
Desember tidak harus selalu diakhiri dengan pesta atau perayaan. Menutup tahun dengan jujur mengakui apa yang dirasakan tanpa menutupinya dengan euforia bisa menjadi bentuk penghormatan pada diri sendiri.
Kejujuran ini memberi fondasi yang lebih sehat untuk memasuki tahun baru. Bukan dengan topeng kebahagiaan, tetapi dengan kesadaran penuh akan kondisi diri.
Jadi, Apakah Itu Salah?
Tidak merayakan apa pun di bulan Desember bukanlah kesalahan. Ia adalah pilihan, dan seperti pilihan lainnya, ia sah selama tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Setiap orang berhak menentukan cara terbaik untuk menjalani akhir tahun. Jika bagi sebagian orang perayaan membawa kebahagiaan, bagi yang lain ketenangan justru lebih bermakna.
Desember tidak menuntut kita untuk merasa atau bertindak dengan cara tertentu. Ia hanya menawarkan waktu. Dan bagaimana kita mengisinya dengan perayaan, refleksi, atau diam sepenuhnya hak kita.
