KesehatanTerbaru

Mengapa Kita Sering Overthinking Saat Tahun Hampir Berakhir

Menjelang akhir tahun, ada satu kebiasaan yang diam-diam sering muncul: overthinking. Pikiran berputar lebih cepat dari biasanya, mengulang kejadian lama, menimbang keputusan yang sudah lewat, dan memproyeksikan masa depan dengan segala kemungkinan terburuknya. Bahkan di tengah suasana liburan atau hari-hari yang seharusnya lebih santai, kepala justru terasa lebih ramai.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ada alasan psikologis, emosional, dan sosial yang membuat akhir tahun menjadi ladang subur bagi overthinking.

Baca Juga: Cara Menutup Tahun dengan Refleksi Diri Tanpa Terjebak Penyesalan

1. Otak Kita Terprogram untuk Mengevaluasi di Akhir Siklus

Manusia secara alami memandang waktu sebagai siklus. Akhir tahun berfungsi sebagai penanda psikologis titik evaluasi yang memicu otak untuk menilai apa yang sudah terjadi. Tanpa disadari, kita mulai mengaudit hidup sendiri: pencapaian, kegagalan, relasi, hingga identitas diri.

Masalahnya, evaluasi ini jarang dilakukan dengan objektif. Saat emosi terlibat, pikiran cenderung fokus pada hal-hal yang kurang, bukan yang sudah berjalan baik. Dari sinilah overthinking bermula: evaluasi berubah menjadi penghakiman diri.

2. Perbandingan Sosial Meningkat Drastis

Akhir tahun identik dengan rangkuman pencapaian. Media sosial dipenuhi kilas balik, pengumuman prestasi, dan resolusi baru. Tanpa sadar, kita membandingkan hidup kita dengan potongan terbaik dari hidup orang lain.

Perbandingan ini memicu pertanyaan berulang:

  • “Kenapa aku belum sampai di titik itu?”

  • “Harusnya aku bisa lebih baik.”

  • “Aku tertinggal.”

Pertanyaan-pertanyaan ini jarang punya jawaban konkret, sehingga pikiran terus berputar tanpa ujung ciri khas overthinking.

3. Tekanan untuk “Menutup Tahun dengan Baik”

Ada narasi tidak tertulis bahwa akhir tahun harus diselesaikan dengan rapi: target tercapai, konflik selesai, dan emosi stabil. Padahal, hidup jarang bekerja sebersih itu.

Ketika realitas tidak sesuai ekspektasi, otak berusaha mencari kesalahan. Kita mengulang skenario “seandainya”:

  • seandainya aku mengambil keputusan lain,

  • seandainya aku lebih berani,

  • seandainya aku tidak menunda.

Alih-alih memberi solusi, pikiran justru terjebak di masa lalu.

4. Ketakutan Akan Waktu yang Terlewat

Akhir tahun mempertegas satu hal yang tidak bisa ditawar: waktu berlalu. Kesadaran ini sering memicu kecemasan eksistensial takut tertinggal, takut gagal, takut tidak cukup berkembang.

Ketika rasa takut ini tidak dihadapi secara sadar, ia berubah menjadi overthinking. Pikiran sibuk mencoba mengendalikan masa depan yang sebenarnya belum terjadi.

5. Overthinking sebagai Bentuk Kontrol Palsu

Ironisnya, overthinking sering terasa seperti usaha untuk memperbaiki keadaan. Dengan memikirkan semuanya secara berlebihan, kita merasa sedang “berusaha”. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya.

Overthinking memberi ilusi kontrol seolah dengan terus memutar skenario di kepala, kita bisa mencegah kesalahan. Kenyataannya, hal ini hanya menguras energi mental tanpa menghasilkan keputusan nyata.

6. Kelelahan Mental yang Terakumulasi

Setahun penuh tuntutan, tekanan, dan perubahan meninggalkan jejak kelelahan. Saat akhir tahun tiba dan ritme hidup melambat, tubuh mulai beristirahat, tetapi pikiran justru baru punya ruang untuk bersuara.

Overthinking sering muncul bukan karena kita terlalu banyak berpikir, melainkan karena terlalu lama menahan emosi. Pikiran yang selama ini ditekan akhirnya mencari jalan keluar.

7. Nostalgia yang Tidak Selalu Manis

Akhir tahun memicu nostalgia lagu lama, kenangan, dan momen yang tak terulang. Nostalgia bisa hangat, tapi juga menyakitkan. Ia mengingatkan kita pada orang yang sudah pergi, versi diri yang sudah berubah, atau mimpi yang tidak tercapai.

Ketika nostalgia bercampur penyesalan, overthinking menjadi sulit dihindari.

8. Overthinking Bukan Tanda Lemah, tapi Tanda Peduli

Penting untuk dipahami: overthinking bukan berarti kamu gagal atau lemah. Justru sebaliknya, ia sering muncul pada orang-orang yang peduli pada hidupnya, pada masa depannya, dan pada makna dari apa yang ia jalani.

Namun kepedulian yang tidak diimbangi penerimaan bisa berubah menjadi beban.

9. Mengelola Overthinking di Akhir Tahun

Alih-alih melawan pikiran, pendekatan yang lebih sehat adalah mengarahkannya. Beberapa cara yang bisa membantu:

  • menulis apa yang sebenarnya dipikirkan tanpa sensor,

  • membedakan hal yang bisa dikontrol dan yang tidak,

  • membatasi konsumsi media sosial reflektif,

  • memberi ruang istirahat mental tanpa rasa bersalah.

Overthinking sering berkurang ketika kita berhenti menuntut jawaban instan.

Penutup: Saat Pikiran Terlalu Ramai, Mungkin Kita Perlu Diam Sejenak

Mengapa kita sering overthinking saat tahun hampir berakhir? Karena akhir tahun adalah cermin besar memantulkan apa yang kita sembunyikan sepanjang tahun. Pikiran menjadi ramai bukan untuk menyiksa, tetapi untuk memberi sinyal bahwa ada hal-hal yang perlu didengarkan.

Mungkin, alih-alih memaksa diri menemukan semua jawaban sebelum tahun berganti, kita hanya perlu satu hal: mengizinkan diri untuk tidak tahu semuanya. Kadang, ketenangan datang bukan dari berpikir lebih keras, tetapi dari berani berhenti sejenak.