Ada sesuatu yang berbeda dari bulan Desember. Jalanan mungkin masih ramai, pusat perbelanjaan penuh lampu dan diskon, notifikasi media sosial terus berdenting namun entah kenapa, hati terasa lebih hening. Bukan selalu sedih, bukan juga sepi secara fisik. Lebih tepatnya: sunyi. Sunyi yang terasa pelan, dalam, dan sulit dijelaskan.
Fenomena ini dialami banyak orang dari berbagai latar belakang. Bahkan mereka yang tidak merayakan liburan tertentu pun sering mengaku bahwa Desember memiliki suasana emosional yang khas. Lalu, apa sebenarnya yang membuat bulan ini terasa lebih sunyi dibandingkan bulan lain?
Baca Juga: Makna Sunyi: Bagaimana Menikmati Kesendirian dengan Sehat

1. Desember adalah Bulan Penutup, Bukan Pembuka
Secara psikologis, manusia memberi makna khusus pada akhir. Desember bukan sekadar bulan ke-12, tapi simbol penutup satu siklus waktu. Otak kita secara alami melakukan apa yang disebut temporal landmarking menandai akhir periode sebagai momen evaluasi.
Tanpa disadari, kita mulai bertanya:
-
Apa yang sudah aku capai tahun ini?
-
Apa yang gagal?
-
Siapa yang masih tinggal, dan siapa yang pergi?
Pertanyaan-pertanyaan ini jarang muncul di bulan lain. Januari memberi harapan, Februari – November memberi kesibukan. Tapi Desember memberi ruang untuk berhenti. Dan saat kita berhenti, keheningan muncul.
2. Sunyi Bukan Berarti Sepi: Perbedaan yang Halus tapi Dalam
Sepi adalah ketiadaan orang. Sunyi adalah kehadiran pikiran.
Desember sering kali justru dipenuhi pertemuan: keluarga, teman lama, acara akhir tahun. Namun sunyi tetap datang karena pikiran kita lebih aktif dari biasanya. Kita mengingat percakapan lama, versi diri yang sudah berubah, atau mimpi yang belum tercapai.
Di bulan lain, kesibukan menutupi suara batin. Di Desember, suara itu terdengar lebih jelas dan terkadang lebih jujur.
3. Faktor Cuaca dan Cahaya: Tubuh Ikut Berperan
Di banyak belahan dunia, Desember identik dengan musim dingin atau hujan. Cahaya matahari berkurang, hari terasa lebih singkat, dan tubuh memproduksi lebih banyak melatonin hormon yang berkaitan dengan rasa kantuk dan refleksi.
Meski di Indonesia tidak mengalami musim dingin ekstrem, hujan yang lebih sering dan langit mendung tetap memberi efek serupa: ritme hidup melambat. Saat ritme melambat, emosi yang tertunda muncul ke permukaan.
Itulah mengapa banyak orang merasa lebih melankolis, lebih sensitif, atau lebih mudah teringat masa lalu di bulan ini.
4. Desember dan Nostalgia: Ingatan yang Datang Tanpa Diundang
Nostalgia adalah tamu tetap bulan Desember.
Lagu lama diputar kembali, foto-foto setahun terakhir muncul di galeri, media sosial dipenuhi kilas balik. Semua ini memicu ingatan emosional bukan hanya tentang tahun ini, tapi juga tahun-tahun sebelumnya.
Nostalgia tidak selalu menyakitkan. Namun ia selalu membawa kesadaran akan waktu yang berlalu. Dan kesadaran itulah yang sering terasa sunyi: menyadari bahwa kita terus bergerak, sementara beberapa hal tertinggal.
5. Tekanan Sosial untuk “Bahagia” Justru Memperkuat Sunyi
Desember sering dipresentasikan sebagai bulan kebahagiaan: liburan, perayaan, kebersamaan. Namun narasi ini tidak selalu selaras dengan realitas setiap orang.
Bagi mereka yang:
-
kehilangan seseorang,
-
sedang berjuang secara finansial,
-
merasa tertinggal dibanding orang lain,
-
atau sekadar lelah secara emosional,
tekanan untuk terlihat “baik-baik saja” justru memperdalam rasa sunyi. Ketika kebahagiaan menjadi kewajiban sosial, perasaan yang tidak sesuai terasa semakin terisolasi.
Sunyi pun muncul, bukan karena tidak ada orang, tetapi karena tidak ada ruang untuk jujur.
6. Desember Membuat Kita Berdamai (atau Bertengkar) dengan Diri Sendiri
Bulan ini sering menjadi cermin. Kita melihat diri kita setahun lalu, lalu membandingkannya dengan sekarang. Ada yang merasa bangga, ada yang merasa kecewa, ada juga yang bingung karena merasa “diam di tempat”.
Proses refleksi ini tidak selalu nyaman. Namun justru di sanalah sunyi berperan: ia memberi ruang untuk berdialog dengan diri sendiri, tanpa distraksi.
Sunyi di Desember sering kali bukan musuh. Ia adalah jeda.
7. Sunyi sebagai Tanda Pertumbuhan
Menariknya, tidak semua orang merasa Desember sunyi dengan cara yang sama. Ada yang merasa damai, ada yang merasa berat. Perbedaannya terletak pada hubungan kita dengan perubahan.
Sunyi bisa menjadi tanda bahwa kita sedang bertumbuh menyadari kompleksitas hidup, menerima bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dalam satu tahun, dan memahami bahwa tidak apa-apa jika beberapa pertanyaan belum memiliki jawaban.
Dalam keheningan itu, kita belajar menerima ketidaksempurnaan.
8. Menghadapi Sunyi Desember dengan Lebih Sehat
Alih-alih melawan rasa sunyi, banyak psikolog menyarankan untuk mengakuinya. Menulis jurnal, berjalan sendirian, mendengarkan musik tanpa multitasking, atau sekadar diam sejenak bisa menjadi cara yang sehat untuk memproses emosi.
Desember tidak menuntut kita untuk selalu bahagia. Ia hanya menawarkan kesempatan untuk berhenti sejenak dan itu sudah cukup.
Penutup: Sunyi yang Tidak Perlu Ditakuti
Kenapa bulan Desember selalu terasa lebih sunyi dari bulan lain? Karena ia adalah ruang transisi. Ruang antara yang sudah terjadi dan yang belum dimulai. Ruang untuk mengingat, merasakan, dan melepaskan.
Sunyi di bulan Desember bukan tanda kelemahan. Ia adalah bahasa halus yang digunakan waktu untuk berbicara pada kita. Dan mungkin, jika kita mau mendengarkan, sunyi itu tidak akan terasa kosong melainkan penuh makna.
